
2.C. PENUTUP UNTUK BAGIAN GMAT
Dari penjelasan saya mengenai bagian verbal, jelas sekali terlihat bahwa saya mengunggulkan vocabulary untuk mengatasi bagian verbal. Dalam belajar, seorang cucu Adam melalui beberapa tahapan.
Dua tahap pertama adalah:
1. Mengerti untuk diri sendiri.
2. Mampu memberikan pengertian kepada orang lain.
Untuk mengatasi TOEFL, jika Anda sudah mahir membaca bacaan berbahasa Inggris atau text book dan mampu memperkirakan arti suatu kata dari konteks kalimatnya, itu sudah cukup. Artinya, Anda sudah mencapai tahap pertama. Jika Anda menyangka bahwa kemampuan Anda tersebut sudah cukup untuk mengatasi GMAT, Anda salah besar!
Barangkali juga, Anda menyangka bahwa jika Anda lama tinggal di Amerika, otomatis nilai verbal Anda naik. Sekali lagi, sebaiknya Anda mengubur dugaan tersebut. Diluar dugaan, banyak teman-teman yang mendapatkan gelar undergraduate di USA (artinya telah tinggal di USA selama 4 tahun), hanya mendapatkan nilai verbal sekitar 25% atau kurang. Mereka memang mahir membaca Fortune, Business Week dsb. Mereka sudah mampu memperkirakan arti kata dari konteks kalimat. Bagi saya, mereka baru mencapai tahap pertama dalam belajar. Kesalahan mereka: mereka sudah tidak merasa perlu lagi untuk sering membuka kamus. Banyak diantara mereka yang tidak mengetahui arti suatu kata di soal bagian verbal GMAT.
Anda akan terheran-heran menyaksikan mahasiswa-mahasiswa Amerika yang tetap menggunakan kamus Inggris-Inggris jika mereka menulis tidak dengan komputer. Kalau orang Amerika saja tetap menggunakan kamus, kenapa kita tidak perlu menggunakan kamus?
Resep saya untuk mendapatkan nilai verbal GMAT yang tinggi adalah dengan sering menerjemahkan (bukan hanya sekedar membaca) koran The Wall Street Journal (WSJ) atau majalah Fortune, Business Week, Time, Newsweek, dsb. Anda dengan mudah menemukan majalah-majalah yang tersebut di Indonesia. Anda tidak perlu membeli majalah yang baru, yang bekaspun sudah memadai.
Bagi saya, menerjemahkan bukan saja berarti saya mengetahui secara pasti arti suatu kata, akan tetapi, saya juga berusaha untuk menyusunnya menjadi suatu kalimat Indonesia yang baik dan benar (bukan seperti kitab pusaka yang Anda baca saat ini). Saya berusaha agar orang lain mengerti apa yang saya maksudkan. Tentunya saya harus sering membuka kamus dan mengorbankan waktu yang tidak sedikit untuk ini.
Sekitar tiga minggu sebelum ujian GMAT Oktober yang lalu, saya mencoba menerjemahkan dua buah kolom berita ringkas "What's News" di WSJ setiap hari. Saya menerjemahkan di malam hari dan di pagi harinya saya baca kembali. Apakah saya berusaha untuk mengingat arti kata yang saya terjemahkan? Tidak! Kalau lupa bagaimana? Seperti TOEFL: cuek saja! Tiga hari atau seminggu kemudian, kata yang saya lupakan tadi toh akan muncul lagi di WSJ.
Dengan demikian, sebelum ujian GMAT, saya menambah ratusan kata baru dalam perbendaharaan kata saya. Pertama-pertama menerjemahkan WSJ memang betul-betul mengesalkan. Saya harus menerjemahkan sekitar 50 kata per hari untuk betul-betul mengetahui 2 kolom berita tersebut. Ingat lho, saya tidak menggunakan kamus Inggris-Indonesia, tapi Inggris-Inggris. Jadi, seringkali saya harus menerjemahkan dengan "berputar". Sebagai contoh, acapkali saya mencari terjemahan suatu kata pada kamus itu sendiri untuk mengetahui secara pasti arti suatu kata yang tidak saya mengerti pada WSJ. Karena perbendaharaan kata saya makin banyak, lama-lama berkurang hingga sekitar 5-10 kata perhari. Memulai yang pertama memang sulit, lama-lama akan semakin mudah.
Kenapa saya menempuh jalan itu? Sebelumnya, saya sudah cukup kenyang belajar grammar, strategi, teori logika, dsb. Nilai verbal saya memang naik, tapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Dari kegagalan-kegagalan tersebut, saya berpendapat bahwa bukan metoda belajar saya yang salah, akan tetapi, prioritas belajar saya yang salah. Saya harus menemukan cara baru untuk mengatasi bagian verbal. Saya coba menambah vocabulary dengan menerjemahkan bacaan berbahasa Inggris. Hasilnya terbukti menggembirakan.
Kalimat-kalimat pada WSJ, Fortune, Business Week, dsb. seringkali bukan merupakan kalimat yang lengkap dan bahasanya adalah bahasa koran, bukan bahasa baku yang Anda pelajari di buku grammar atau TOEFL. Jika Anda sudah sanggup menerjemahkan WSJ, dsb. yang bahasanya susah untuk dimengerti (bagi orang non-bule), maka jika kita membaca bacaan pada GMAT, akan terasa sekali betapa mudah untuk dimengerti.
Kalau Anda lebih suka memilih untuk membaca buku dari pada membaca koran atau majalah untuk menambah vocabulary Anda, silahkan baca Word Smart dari Princeton Review. Kalau Anda sudah mulai menerjemahkan kata setiap hari, berusahalah mempertahankan kerajinan Anda. Jangan rajin hanya di awal saja. Bagi orang bule sendiri, mereka menganggap bagian verbal dari GMAT terlalu panjang atau terlalu banyak soalnya. Dengan kata lain, mereka merasa kecepatan membaca mereka tidak memadai.
Dari analisa nilai bagian verbal teman-teman saya yang rendah, saya berpendapat bahwa banyak diantara mereka terlalu sembrono atau terlalu berani menjawab. Artinya, mereka menjawab tapi lebih banyak salahnya. Menebak jawaban boleh-boleh saja asal jangan ngawur. Setiap kesalahan berarti pengurangan nilai. Kalau mereka bias mengurangi kesalahan tersebut, walaupun tidak menambah jawaban yang benar, saya yakin mereka akan mampu menaikkan nilai GMAT-nya. Silahkan pelajari intelligent guessing dan process of elimination (POE) di Princeton Review.
Kalau Anda bermaksud untuk tidak menjawab suatu soal yang sulit, putuskan dengan segera. Ingat, waktu Anda sangat terbatas. Banyak teman-teman yang memutuskan untuk tidak menjawab soal yang sulit setelah berusaha setengah mati untuk menjawabnya. Akibatnya, ia kekurangan waktu untuk menjawab soal yang mudah. Sewaktu ujian GMAT, saya sarankan Anda untuk tidak perlu menghabiskan seluruh waktu yang dialokasikan, yaitu 30 menit per section untuk berusaha mengerjakan soal semuanya. Lebih baik Anda meninggalkan satu soal yang sulit tapi sempat memeriksa kembali soal lainnya yang telah Anda kerjakan. Sisakan juga 15 detik terakhir untuk tidak melakukan apa-apa guna menenangkan pikiran Anda sebelum mengerjakan section berikutnya.
Beberapa waktu yang lalu, saya melihat wawancara televisi tentang dua peserta (dari 1,4 juta peserta) yang mendapat nilai sempurna pada SAT (Scholastic Aptitude Test, semacam Sipenmaru buat bangsa penggemar Mc Donald). Yang menarik adalah, ketika ditanya apa hobinya, keduanya mempunyai hobi yang sama: komputer dan membaca novel science fiction! Saya pernah bertemu dengan orang bule yang mendapatkan nilai GMAT 770. Pekerjaannya: guru kursus TOEFL dan GMAT. You bet!
Rudy, seorang mahasiswa Indonesia mendapatkan nilai GMAT 710. Ia mendapatkan undergraduate nya dalam bidang mechanical engineering di University of Michigan (Ann Arbor). Undergraduate GPA nya adalah 3,9 (A=4). Setahu saya, ada dua orang Indonesia lainnya yang memiliki nilai GMAT di atas 700.
Seorang Indonesia yang bernama XYZ mendapatkan nilai GMAT 660. Lulus dari University of Texas at Austin bidang chemical engineering sebelum melanjutkan MBA diperguruan tinggi yang sama.
Seorang teman Indonesia saya yang lainnya ada yang mendapatkan nilai GMAT 610. Ia lulus dari University of California (Riverside) sebelum melanjutkan ke California State University (Fullerton). Ia memilih untuk ke Cal Sate karena UC Riverside waktu itu belum di akreditasi AACSB (American Assembly of Collegiate School of Business). Ketika saya tanya apa resepnya, jawabnya adalah:
mengerjakan latihan, minimal satu bagian (section) tiap hari. Bukti lagi: kerja keras dilandasi dengan kemampuan, Insya Allah, akan membuahkan hasil.
Memang benar bahwa beberapa orang Indonesia yang saya sebutkan diatas mempunyai keuntungan karena telah lama tinggal di USA. Akan tetapi, tengoklah kembali paragraf-paragraf saya dimuka mengenai teman-teman saya lainnya yang mendapatkan undergraduate di USA tapi tidak mampu mendapatkan GMAT yang tinggi. Saya tetap percaya bahwa orang-orang yang saya sebutkan di atas memang orang yang pintar.
Seorang mahasiswa Indonesia yang mendapatkan undergraduatenya di Indonesia mampu mendapatkan nilai GMAT 620, dan TOEFL 630; walaupun GPA nya hanya 2,3. Ia adalah seorang mahasiswa lulusan Universitas Tarumanegara dan mengambil kuliah di program MBA University of Tennessee (Knoxville).
Seorang tamatan Jurusan Teknik Industri ITB mampu mendapatkan nilai GMAT 610. Ia bekerja di Bank Indonesia. Saat ini bersekolah di The Wharton School (University of Pennsylvania).
Sedikit sekali orang Indonesia yang memiliki GMAT diatas 600 atau GRE yang tinggi. Tidak demikian halnya dengan orang India dan Cina. Sebagai contoh, seorang teman saya dari India yang belajar di University of Houston untuk mendapatkan gelar doktor di bidang management information system ada yang mendapatkan nilai GRE 2250 (dari maksimum 2400 untuk 3 section). Mereka sanggup mendapatkan nilai yang tinggi karena mereka memiliki motivasi yang tinggi untuk mendapatkan GMAT/GRE yang tinggi, kemudian berangkat ke Amerika, lalu mencari bea siswa dan kerja apa saja, selanjutnya ... tidak pulang lagi (karena keadaan tanah airnya yang lumayan kacau)!
Motivasi akan sanggup menggerakkan kita untuk mendapatkan nilai GMAT/GRE yang tinggi. Tentunya, bukan motivasi seperti contoh di atas yang saya maksudkan. Sama halnya dengan GMAT, saya yakin bahwa orang yang mampu mencapai nilai GRE yang tinggi juga memiliki vocabulary yang cangging dan tidak menemukan kesulitan dalam mengerjakan TOEFL.
Dari penjelasan saya mengenai bagian verbal, jelas sekali terlihat bahwa saya mengunggulkan vocabulary untuk mengatasi bagian verbal. Dalam belajar, seorang cucu Adam melalui beberapa tahapan.
Dua tahap pertama adalah:
1. Mengerti untuk diri sendiri.
2. Mampu memberikan pengertian kepada orang lain.
Untuk mengatasi TOEFL, jika Anda sudah mahir membaca bacaan berbahasa Inggris atau text book dan mampu memperkirakan arti suatu kata dari konteks kalimatnya, itu sudah cukup. Artinya, Anda sudah mencapai tahap pertama. Jika Anda menyangka bahwa kemampuan Anda tersebut sudah cukup untuk mengatasi GMAT, Anda salah besar!
Barangkali juga, Anda menyangka bahwa jika Anda lama tinggal di Amerika, otomatis nilai verbal Anda naik. Sekali lagi, sebaiknya Anda mengubur dugaan tersebut. Diluar dugaan, banyak teman-teman yang mendapatkan gelar undergraduate di USA (artinya telah tinggal di USA selama 4 tahun), hanya mendapatkan nilai verbal sekitar 25% atau kurang. Mereka memang mahir membaca Fortune, Business Week dsb. Mereka sudah mampu memperkirakan arti kata dari konteks kalimat. Bagi saya, mereka baru mencapai tahap pertama dalam belajar. Kesalahan mereka: mereka sudah tidak merasa perlu lagi untuk sering membuka kamus. Banyak diantara mereka yang tidak mengetahui arti suatu kata di soal bagian verbal GMAT.
Anda akan terheran-heran menyaksikan mahasiswa-mahasiswa Amerika yang tetap menggunakan kamus Inggris-Inggris jika mereka menulis tidak dengan komputer. Kalau orang Amerika saja tetap menggunakan kamus, kenapa kita tidak perlu menggunakan kamus?
Resep saya untuk mendapatkan nilai verbal GMAT yang tinggi adalah dengan sering menerjemahkan (bukan hanya sekedar membaca) koran The Wall Street Journal (WSJ) atau majalah Fortune, Business Week, Time, Newsweek, dsb. Anda dengan mudah menemukan majalah-majalah yang tersebut di Indonesia. Anda tidak perlu membeli majalah yang baru, yang bekaspun sudah memadai.
Bagi saya, menerjemahkan bukan saja berarti saya mengetahui secara pasti arti suatu kata, akan tetapi, saya juga berusaha untuk menyusunnya menjadi suatu kalimat Indonesia yang baik dan benar (bukan seperti kitab pusaka yang Anda baca saat ini). Saya berusaha agar orang lain mengerti apa yang saya maksudkan. Tentunya saya harus sering membuka kamus dan mengorbankan waktu yang tidak sedikit untuk ini.
Sekitar tiga minggu sebelum ujian GMAT Oktober yang lalu, saya mencoba menerjemahkan dua buah kolom berita ringkas "What's News" di WSJ setiap hari. Saya menerjemahkan di malam hari dan di pagi harinya saya baca kembali. Apakah saya berusaha untuk mengingat arti kata yang saya terjemahkan? Tidak! Kalau lupa bagaimana? Seperti TOEFL: cuek saja! Tiga hari atau seminggu kemudian, kata yang saya lupakan tadi toh akan muncul lagi di WSJ.
Dengan demikian, sebelum ujian GMAT, saya menambah ratusan kata baru dalam perbendaharaan kata saya. Pertama-pertama menerjemahkan WSJ memang betul-betul mengesalkan. Saya harus menerjemahkan sekitar 50 kata per hari untuk betul-betul mengetahui 2 kolom berita tersebut. Ingat lho, saya tidak menggunakan kamus Inggris-Indonesia, tapi Inggris-Inggris. Jadi, seringkali saya harus menerjemahkan dengan "berputar". Sebagai contoh, acapkali saya mencari terjemahan suatu kata pada kamus itu sendiri untuk mengetahui secara pasti arti suatu kata yang tidak saya mengerti pada WSJ. Karena perbendaharaan kata saya makin banyak, lama-lama berkurang hingga sekitar 5-10 kata perhari. Memulai yang pertama memang sulit, lama-lama akan semakin mudah.
Kenapa saya menempuh jalan itu? Sebelumnya, saya sudah cukup kenyang belajar grammar, strategi, teori logika, dsb. Nilai verbal saya memang naik, tapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Dari kegagalan-kegagalan tersebut, saya berpendapat bahwa bukan metoda belajar saya yang salah, akan tetapi, prioritas belajar saya yang salah. Saya harus menemukan cara baru untuk mengatasi bagian verbal. Saya coba menambah vocabulary dengan menerjemahkan bacaan berbahasa Inggris. Hasilnya terbukti menggembirakan.
Kalimat-kalimat pada WSJ, Fortune, Business Week, dsb. seringkali bukan merupakan kalimat yang lengkap dan bahasanya adalah bahasa koran, bukan bahasa baku yang Anda pelajari di buku grammar atau TOEFL. Jika Anda sudah sanggup menerjemahkan WSJ, dsb. yang bahasanya susah untuk dimengerti (bagi orang non-bule), maka jika kita membaca bacaan pada GMAT, akan terasa sekali betapa mudah untuk dimengerti.
Kalau Anda lebih suka memilih untuk membaca buku dari pada membaca koran atau majalah untuk menambah vocabulary Anda, silahkan baca Word Smart dari Princeton Review. Kalau Anda sudah mulai menerjemahkan kata setiap hari, berusahalah mempertahankan kerajinan Anda. Jangan rajin hanya di awal saja. Bagi orang bule sendiri, mereka menganggap bagian verbal dari GMAT terlalu panjang atau terlalu banyak soalnya. Dengan kata lain, mereka merasa kecepatan membaca mereka tidak memadai.
Dari analisa nilai bagian verbal teman-teman saya yang rendah, saya berpendapat bahwa banyak diantara mereka terlalu sembrono atau terlalu berani menjawab. Artinya, mereka menjawab tapi lebih banyak salahnya. Menebak jawaban boleh-boleh saja asal jangan ngawur. Setiap kesalahan berarti pengurangan nilai. Kalau mereka bias mengurangi kesalahan tersebut, walaupun tidak menambah jawaban yang benar, saya yakin mereka akan mampu menaikkan nilai GMAT-nya. Silahkan pelajari intelligent guessing dan process of elimination (POE) di Princeton Review.
Kalau Anda bermaksud untuk tidak menjawab suatu soal yang sulit, putuskan dengan segera. Ingat, waktu Anda sangat terbatas. Banyak teman-teman yang memutuskan untuk tidak menjawab soal yang sulit setelah berusaha setengah mati untuk menjawabnya. Akibatnya, ia kekurangan waktu untuk menjawab soal yang mudah. Sewaktu ujian GMAT, saya sarankan Anda untuk tidak perlu menghabiskan seluruh waktu yang dialokasikan, yaitu 30 menit per section untuk berusaha mengerjakan soal semuanya. Lebih baik Anda meninggalkan satu soal yang sulit tapi sempat memeriksa kembali soal lainnya yang telah Anda kerjakan. Sisakan juga 15 detik terakhir untuk tidak melakukan apa-apa guna menenangkan pikiran Anda sebelum mengerjakan section berikutnya.
Beberapa waktu yang lalu, saya melihat wawancara televisi tentang dua peserta (dari 1,4 juta peserta) yang mendapat nilai sempurna pada SAT (Scholastic Aptitude Test, semacam Sipenmaru buat bangsa penggemar Mc Donald). Yang menarik adalah, ketika ditanya apa hobinya, keduanya mempunyai hobi yang sama: komputer dan membaca novel science fiction! Saya pernah bertemu dengan orang bule yang mendapatkan nilai GMAT 770. Pekerjaannya: guru kursus TOEFL dan GMAT. You bet!
Rudy, seorang mahasiswa Indonesia mendapatkan nilai GMAT 710. Ia mendapatkan undergraduate nya dalam bidang mechanical engineering di University of Michigan (Ann Arbor). Undergraduate GPA nya adalah 3,9 (A=4). Setahu saya, ada dua orang Indonesia lainnya yang memiliki nilai GMAT di atas 700.
Seorang Indonesia yang bernama XYZ mendapatkan nilai GMAT 660. Lulus dari University of Texas at Austin bidang chemical engineering sebelum melanjutkan MBA diperguruan tinggi yang sama.
Seorang teman Indonesia saya yang lainnya ada yang mendapatkan nilai GMAT 610. Ia lulus dari University of California (Riverside) sebelum melanjutkan ke California State University (Fullerton). Ia memilih untuk ke Cal Sate karena UC Riverside waktu itu belum di akreditasi AACSB (American Assembly of Collegiate School of Business). Ketika saya tanya apa resepnya, jawabnya adalah:
mengerjakan latihan, minimal satu bagian (section) tiap hari. Bukti lagi: kerja keras dilandasi dengan kemampuan, Insya Allah, akan membuahkan hasil.
Memang benar bahwa beberapa orang Indonesia yang saya sebutkan diatas mempunyai keuntungan karena telah lama tinggal di USA. Akan tetapi, tengoklah kembali paragraf-paragraf saya dimuka mengenai teman-teman saya lainnya yang mendapatkan undergraduate di USA tapi tidak mampu mendapatkan GMAT yang tinggi. Saya tetap percaya bahwa orang-orang yang saya sebutkan di atas memang orang yang pintar.
Seorang mahasiswa Indonesia yang mendapatkan undergraduatenya di Indonesia mampu mendapatkan nilai GMAT 620, dan TOEFL 630; walaupun GPA nya hanya 2,3. Ia adalah seorang mahasiswa lulusan Universitas Tarumanegara dan mengambil kuliah di program MBA University of Tennessee (Knoxville).
Seorang tamatan Jurusan Teknik Industri ITB mampu mendapatkan nilai GMAT 610. Ia bekerja di Bank Indonesia. Saat ini bersekolah di The Wharton School (University of Pennsylvania).
Sedikit sekali orang Indonesia yang memiliki GMAT diatas 600 atau GRE yang tinggi. Tidak demikian halnya dengan orang India dan Cina. Sebagai contoh, seorang teman saya dari India yang belajar di University of Houston untuk mendapatkan gelar doktor di bidang management information system ada yang mendapatkan nilai GRE 2250 (dari maksimum 2400 untuk 3 section). Mereka sanggup mendapatkan nilai yang tinggi karena mereka memiliki motivasi yang tinggi untuk mendapatkan GMAT/GRE yang tinggi, kemudian berangkat ke Amerika, lalu mencari bea siswa dan kerja apa saja, selanjutnya ... tidak pulang lagi (karena keadaan tanah airnya yang lumayan kacau)!
Motivasi akan sanggup menggerakkan kita untuk mendapatkan nilai GMAT/GRE yang tinggi. Tentunya, bukan motivasi seperti contoh di atas yang saya maksudkan. Sama halnya dengan GMAT, saya yakin bahwa orang yang mampu mencapai nilai GRE yang tinggi juga memiliki vocabulary yang cangging dan tidak menemukan kesulitan dalam mengerjakan TOEFL.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home